Warisan Machiavelli

Dia adalah kita

An-Najah.net — Machiavelli adalah guru para politisi sekuler. Ia terkenal dengan semboyan “tujuan menghalalkan cara mencapainya.” Nasehat yang ia tuliskan dalam buku Il Principe itu menjadi dalil ditempuhnya segala macam cara demi meraih atau mempertahankan kekuasaan.

Namun ada juga nasehatnya yang tak kurang bernilai bagi para politisi. Di bagian lain bukunya, Machiavelli menuliskan, “Seorang penguasa tak perlu baik, tetapi ia harus terlihat baik.” Inilah dalil bagi karakter umum politisi, lain di mulut lain di hati alias munafik.

Berlaku munafik dianjurkan Machiavelli. Aslinya jahat, namun kejahatan  itu dibungkus dengan kebaikan palsu.Wasiat kedua Machiavelli itu bertahan sampai sekarang dalam wujud pencitraan. Sejahat apapun penguasa, ia butuh nampak baik dan mulia. Baik dalam tingkah laku maupun tutur kata.

Nasehat kedua ini menjadi lebih relevan di era demokrasi yang kini menguasai sebagian besar negara modern. Maklum saja, pemimpin berkuasa jika dipilih rakyatnya. Ia bisa terjungkal bukan karena kudeta melainkan karena kehilangan popularitas dan dukungan.

Hal sama juga berlaku di Indonesia. Namun, berbeda dengan masyarakat Barat yang kritis dan jeli memelototi para politisi, masyarakat kita masih lebih mudah diakali. Di sini tak perlu langkah nyata, dukungan bisa diraih sekedar dengan janji dan kata-kata.

Di sisi lain, politisi di negeri ini tak berani berdusta secara vulgar. Mereka lebih suka menggunakan kata-kata yang samar. Semacam upaya menyiapkan ban cadangan. Ketika kelak dikecam karena dusta atau ingkar janji, ia bisa berkilah, “Kan maksud saya bukan itu.”

Itulah sebabnya mengobral kata-kata kosong dan samar menjadi tradisi di negeri ini. Tengok saja jargon kampanye yang tercantum di baliho dan spanduk, menghiasi jalanan dan ruang umum. Misalnya jargon “revolusi mental,” tak jelas mental macam apa yang mau direvolusi. Dari mental bejat jadi baik atau malah sebaliknya?

Beberapa tahun lalu, seorang politisi yang juga pengusaha gencar berkampanye di televisi dengan semboyan “hidup adalah perbuatan.” Tetapi tak jelas apa yang dimaksud, perbuatan mulia atau justru hina.

Sebagian politisi lain selalu mengaku  “pro-rakyat.” Namun, meski  kerap digembar-gemborkan, tak jelas rakyat yang mana yang dimaksud. Seandainya mereka berpihak pada para pelacur, koruptor dan bandit  maka mereka tak salah. Bukankah ketiga golongan itu juga rakyat?

Ada lagi slogan “Indonesia hebat,” lagi-lagi tak jelas. Hebat apanya? Hebat amal shalih atau justru hebat maksiatnya? Tak jelas kehebatan macam apa yang hendak diraih oleh politisi ini ketika berkuasa.

“Katakan tidak pada korupsi,” slogan ini pernah dipopulerkan sebuah partai. Tapi tidak jelas, tidak yang mana yang dimaksud. Tidak mau atau tidak menolak? Nyatanya para bintang iklan itu, petinggi partai berkuasa saat itu, kini jadi pesakitan kasus korupsi.

Semua contoh di atas menunjukkan betapa kuatnya tipuan pencitraan. Ketika kata-kata kosong menjadi semboyan dan kesamaran nilai menjadi jualan, inilah saat warisan Machiavelli diperebutkan. Na’udzubillahi min dzalik.  (Ibnu)

Diambil dari majalah An-Najah Edisi 109, Desember 2014

Editor : Sahlan Ahmad