Waro’, Modal Utama Orang Tua dan Pendidik

Ilustrasi, Sikap Wara
Ilustrasi, Sikap Wara
Waro’,  Modal Utama Orang Tua dan Pendidik
Waro’, Modal Utama Orang Tua dan Pendidik

An-Najah.net – Ini kisah lama. Kejadiannya, saat saya menjadi santri di Pondok Pesantren Darusy Syahadah, Simo, Boyolali, Jawa Tengah. Walau sudah lama, masih terus terkenang dalam ingatan saya. Mungkin tidak akan terlupakan. Karena dari sini, pelajaran berharga dalam hidup didapatkan.

Kisahnya kembali menari-nari di ingatan saya. Pada bulan Ramadhan lalu, saya diminta untuk mengisi kajian para santri. Baik santriwan maupun santriwati. Saat melihat pondok, dan perumahan ustadz, memori saat menjadi santri muncul seketika, dengan 1001 kenangan yang membersamainya.

Rasanya kurang afdhol, jika kisah-kisah tarbiyah tidak diabadikan dalam budaya tutur. Bisa jadi akan menggugah para murobbi zaman sekarang, di tempat lain, atau di waktu lain. Inilah yang menginspirasi saya untuk menulis kisah ini.

Syahdan, suatu malam, salah satu petinggi pondok ini memanggil saya ke rumahnya. Beliau ingin bicara. Bakda shalat isya, saya pun melangkah ke rumah beliau yang terletak di kompleks perumahan para ustadz. Kondisinya lumayan gelap. Disertai tanah liat yang lengket, sehabis dibasahi hujan sore hari.

Sesampai di rumah beliau, suasana agak sepi. Tidak ada suara apa-apa yang terdengar di sekitar. Hanya suara hewan malam yang menambahk uniknya perasaan hati. Rumah yang belum selesai dibangun, milik kiyai ini begitu bersahaja, di depannya hanya diterangi bolam kuning, yang berkekuatan kisaran 5 Watt.

Saya pun  mengetuk pintu rumah beliau, seraya mengucapkan salam. Tak berapa lama, beliau membukakan pintu dan mempersilahkan masuk. Saya kemudian melepas sandal, tiba-tiba beliau berkata, “Tidak usah dilepas. Dipakai saja. Ini belum dikeramik.” Dan memang, saat itu, lantainya masih tanah merah. Belum dicor semen atau dikeramik.

Yang mengherangkan saya kala itu, lampu penerang jalan hidup. Sementara lampu kamar tamu mati. “Ada yang konslet tadz, kok nggak nyala.” Sambil meletakkan lilin di atas meja, beliau menjawab, “Tidak, lampu baik saja. Saya matikan dari tadi.” Saya diam, sambil memikirkan sebabnya.

Sepertinya beliau paham apa yang saya pikirkan. “Begini akhi, (walau kami santrinya, beliau sering menyapa dengan kalimat akhi (saudaraku) listrik di sini disubsidi oleh pondok. Sementara saya memanggil antum malam ini, bukan untuk kepentingan  pondok. Saya, tidak berani menggunakan listrik ini untuk penerang kebutuhan selain urusan pondok,” jelas beliau.

Saya terdiam, kaget dan takjub dengan orang yang duduk di hadapan saya ini. Di bawah remang-remang lilin, kami melanjutkan obrolan. Sementara hati saya diliputi rasa kagum terhadap zuhud dan waro’nya beliau. Semoga Allah SWT menjaga beliau dan ustadz-ustadz yang berkhidmah untuk Islam, dengan mendidik kader-kader da’i-mujahid di ma’had ini.

Apakah Waro’?

Waro’, kata yang sangat singkat. Hanya tediri dari empat huruf, dalam bahasa arab hanya tiga huruf (ورع). Walau kata ini sangat singkat, tetapi memiliki lautan faedah. Kajian terkait waro’ pun kerap dilakukan oleh ulama. Sebab, kata penulis matan Madarijus Salikin, waro’ adalah puncak pendakian maqom zuhud bagi orang-orang awam, dan pintu awal maqom zuhud bagi khowwashul khowwas (orang-orang special).

Ibrahim bin Adham menjelaskan, “Waro’ adalah meninggalkan setiap syubhat, semua yang tidak bermanfaat terhadap dan segala hal yang bersifat berlebih-lebihan.” (Madarijus Salikin, 2/20).

Para ulama membagi waro’ menjadi dua; Pertama: Waro’ yang mustahab (sunnah), yaitu meninggalkan  syubhat. Kedua: dan waro’ yang wajib  yaitu meninggalkan yang haram. Para nabi telah mencontohkan kedua jenis waro’ ini, (Maushu’ah, 1/141).

Oleh karena itu, Allah SWT memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk berbuat seperti apa yang diperbuat oleh para nabi. Allah SWT berfirman;

يَاأَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Mukminuun: 51)

Syaikh Dr. Abdullah Azzam RHM berkata, “Takwa dan waro’ akan terlihat pada diri seseorang pada saat menghadapi perkara-perkara syubhat. Manakala ketakwaan, kehati-hatian serta kewaspadaan itu berjalan secara kontinyu. Saat itu pula sifat Waro’ pada diri seseorang semakin meningkat dan tinggi.”

“Sifat Waro’ seseorang, “ lanjut beliau, “pertama kali akan dilihat pada dua persoalan yaitu kepemimpinan dan harta. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda:

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ المَرْءِ عَلَى المَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ

“Tidaklah dua serigala lapar yang dilepas dalam kumpulan domba itu lebih merusak daripada kerusakan agama seseorang akibat ketamakan seseorang terhadap kedudukan dan harta.” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah SAW, menyerupakan sifat tamak terhadap harta dan kedudukan dengan dua ekor Serigala yang lapar bergerak mengendap di malam hari yang dingin untuk memangsa agama dan sifat waro’ seseorang.” (Tarbiyah Jihadiyah, 1/92-93)

Sifat waro’ tercermin dalam upaya menjauhkan diri dari berbagai keburukan. Serta berupaya menjaga kebaikan dan keimanan. Manakala muroqobah bertambah kuat, kemaksiatan menjadi sedikit dosa-dosa dan keburukan menjadi berkurang.

Tingkatan tertinggi waro’ adalah menjauhkan diri dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat bagi dirinya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

“Salah satu tanda kebaikan keislaman seorang hamba adalah ia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat.” (HR. Ibnu Majah)

Ketika mencapai tingkat tertinggi waro’ seseorang tidak lagimembicarakan perkara-perkara yang tidak bermanfaat. Apalagi perkara tersebut merusak kehormatan saudara sesama muslim. Syaikh Abdullah Azzam pernah menukil kisah, bahwa dulu ada seorang saleh yang melihat sebuah istana.

Lalu dia bertanya kepada orang-orang, “milik siapa istana ini?”. Beberapa saat kemudian, ia teringat hadits di atas. Maka dia melakukan puasa setahun penuh untuk menebus pertanyaan sia-sianya ini; hanya karena ia bertanya tentang pemilik istana. (Tarbiyah Jihadiyah, 1/97)

Lalu bagaimana dengan orang yang di waktu siang dan malam digunakan untuk mencerca dan mencemarkan kehormatan seseorang. Terus mencari-cari kesalahan.

Keutamaan Waro’                                                                                                         

Keberhasilan para murobbi sebenarnya bukan sekedar cerdas menghafal dalil, dan menukil perkataan ulama sehingga membuat murid-muridnya berdecak kagum.

Tetapi, keberhasilan itu terletak pada tauladan dan sikap waro’nya terhadap dunia. Sebab dengan ini keberkahan ilmu itu sangat mempengaruhi tingkah laku, dan orientasi serta keislaman murid-muridnya. Jika, murid hanya dicekoki dengan dalil, tanpa diberikan teladan dalam kehidupan nyata, yang lahir adalah murid-murid yang hanya bisa bersilat lidah, dan menjadikan ilmu dien untuk bekal mencari dunia. Bukan untuk memuliakan Islam.

Hal ini bisa dilihat pada orang tua dan guru para ulama yang harum namanya hingga sekarang. Di belakang imam Abu Hanifah ada orang tua, Tsabit yang saleh. Beliau mengharamkan tubuhnya dimasuki dan ditempeli seuatu yang syubhat apalagi haram. Walau hanya separuh delima yang ditemukan di sungai.

Keutamaan lain sikap waro’ antara lain:

Pertama: Menumbuhkan sifat keberanian dan  menimbulkan kekuatan hati serta mewariskan keperkasaan maupun keberanian yang tiada tara.

Dikisahkan ketika Zahir Baybars penguasa Syam, meminta fatwa ulama; agar ulama berfatwa meminta kaum muslimin mengumpulkan harta untuk membeli senjata. Maka seluruh ulama memberikan fatwa tersebut, kecuali Imam an-Nawawi.

Zahir Baybars, mencerca imam An-Nawawi karena hal itu. Ia berkata, “Saya hendak menyingkirkan musuh-musuh Allah dan menjaga wilayah Islam. Lalu mengapa engkau tidak mau memberikan kepadaku fatwa supaya kaum muslimin mengumpulkan harta untuk membeli persenjataan?”

Imam an-Nawawi menjawab dengan tegas, “Sungguh dahulu engkau datang kepada kami sebagai hamba sahaya, yang tidak punya harta sedikitpun, sekarang saya lihat di sekelilingmu ada pelayan-pelayan laki-laki dan perempuan, istana-istana dan ladang yang luas. Padahal itu bukan hartamu. Jika engkau jual itu semuanya untuk membeli senjata. Lalu engkau masih membutuhkan lagi, barulah saya akan memberikan fatwa supaya mengumpulkan harta kaum muslimin.”

Zahir berteriak kepada imam An-Nawawi, “Keluarlah engkau dari negeri Syam!”  Maka Imam an-Nawawi pun keluar dan tinggal di desa Nawa hingga Zahir wafat.

Kedua: Membuat ibadah dan ilmu berbarokah.

Dikisahkan bahwa Imam an-Nawawi tinggal di Syam; hidup dan wafat di sana. Kendati demikian, beliau belum pernah merasakan buah-buahan dari negeri Syam.

Ketika beliau ditanya, mengapa demikian. beliau menjawab, “Sesungguhnya di Syam, ada kebun-kebun buah wakaf yang hilang. Dan aku khawatir makan dari harta wakaf tersebut.”

Dengan sikap war’i ini, Imam an-Nawawi dibukakan pintu ilmu dan hikmah yang luar biasa. Hingga sekarang, buku, petuah dan tulisannya masih menginspirasi jutaan muslimin di dunia. Hampir di setiap majelis ilmu, kitab-kitab Imam an-Nawawi, seperti Arbain An-Nawasi dan riyadus sholihin dikaji dan diambil faedahnya.

Ketiga: Kebaikan keluarga, keturunan juga menjadikan seseorang hamba yang sangat dekat kepada Allah SWT.

Jika kita menelusuri keturunan  dan pendidik para ulama robbaniy. Maka kita akan menemukan, para orang tua dan para pendidik mereka adalah orang-orang waro’ yang berkuwalitas tinggi.

Orang tua imam hadits, ulama dan mujahid imam Abdullah bin Mubarok,adalah orang yang sangat menjaga makanan yang masuk ke perutnya. Dikisahkan, saat orang tuanya –Mubarak-, diminta untuk menjaga kebun orang kaya, ia tidak pernah mencicipi isi kebun tersebut, walau pada musim buah. Sebab, menurut beliau, pemilik kebun hanya memerintahkannya untuk menjaga kebun, tidak ada izin untuk mencicipi buahnya, juga tidak ada larangan.

Beliau menilai buah-buah di kebun tersebut syubhat bagi dirinya. Maka ia pun tidak mau mencicipinya. Inilah yang membuat sang tuan kagum terhadap dirinya, dan akhirnya menjadikannya sebagai menantu untuk putrinya yang sholehah. Dari kedua orang tua yang waro’ ini, lahirla Abdullah bin Mubarok.

Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW bersabda kepada sahabat Abu Hurairah RA,

يا أبا هُرَيْرةَ كن وَرعًا، تَكُن أعبدَ النَّاسِ وَكُن قنعًا تَكُن أشكرَ النَّاسِ، وأحبَّ للنَّاسِ ما تحبُّ لنفسِكَ، تَكُن مؤمنًا،  وأحسِن جوارَ مَن جاورَكَ، تَكُن مسلمًا، وأقلَّ الضَّحِكَ، فإنَّ كثرةَ الضَّحِكِ تُميتُ القلبَ

“Wahai Abu Hurairah bersikap waro’lah, kamu akan menjadi manusia yang paling taat ibadahnya. Bersikap qona’ah-lah, kamu akan menjadi manusia yang pandai bersyukur. Cintailah untuk manusia, apa yang kamu cintai untuk dirimu, niscaya engkau akan menjadi seorang mukmin (sempurna). Dan berbuat baiklah kepada tetanggamu, engkau akan menjadi muslim (yang baik). Persedikitlah tertawa, karena banyaknya ketawa akan mematikan hati.” (HR. Ibnu Majah & Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)

Bermimpi punya kader dan anak yang luar biasa, seperti para ulama yang terkisahkan di atas, sah-sah saja. Tetapi, jangan lupa sejauh mana karakter waro’ tertanam pada diri Anda!*

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 140 Rubrik Oaseimani hal : 40 – 42

Penulis : Akram Syahid

Editor : Anwar