Waspadai Politisasi Ramadhan

Ilustrasi Buka bersama, ramadhan

An-Najah.net – Ada sebuah hadits yang layak direnungkan.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ نَاساً مِنْ أَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله عليه وسلم قَالُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِاْلأُجُوْرِ يُصَلُّوْنَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُوْمُوْنَ كَمَا نَصُوْمُ، وَتَصَدَّقُوْنَ بِفُضُوْلِ أَمْوَالِهِمْ قَالَ : أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا يَتَصَدَّقُوْنَ : إِنَّ لَكُمْ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٍ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةً وَنَهْيٍ عَن مُنْكَرٍ صَدَقَةً وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً قَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ ؟ قَالَ : أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ  )رواه مسلم(

Dari Abu Dzar radhiyallahu’anhu juga, bahwa beberapa orang dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah membawa pahala (yang banyak), mereka shalat bagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta-harta mereka.” Beliau bersabda, “Bukankah Allah subhanahu wata’ala menjadikan bagi kalian apa-apa yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, memerintahkan hal yang ma’ruf adalah sedekah. Dan salah seorang dari kalian melampiaskan syahwatnya kepada istrinya adalah sedekah.” Mereka bertanya, “Salah seorang di antara kami melampiaskan syahwatnya, apakah pada hal itu ia akan mendapat balasan pahala?” Beliau balik bertanya, “Bagaimana menurut pendapat kalian jika ia melampiaskan syahwatnya pada hal yang haram, apakah ia akan terkena dosa? Maka demikian pula jika ia melampiaskan pada hal yang halal, maka ia akan mendapatkan pahala.” (Shahih dikeluarkan oleh Muslim)

Hadits di atas menyatakan bahwa orang-orang kaya memang memiliki suatu kelebihan yang dikehendaki Allah SWT atas orang-orang miskin. Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani berkata,

“Hadits ini menunjukkan keutamaan orang kaya yang menunaikan hak-hak Allah ﷻ  pada (harta) kekayaannya dibandingkan orang miskin, karena berinfak di jalan Allah hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kaya.” ( Kitab “Fathul Baari” (3/298)

Keutamaan orang kaya dibanding dengan orang miskin terletak pada kelebihan hartanya. Orang-orang kaya bisa bersedekah, berkurban, berhaji, berzakat dan ibadah-ibadah lain yang harus dengan harta, tidak demikian halnya dengan orang-orang miskin.

Ramadhan tiba, menjadi ladang amal shaleh bagi orang-orang kaya. Mereka menginfakkan hartanya, pahala pun berlipat ganda. Shiyam, shadaqah, dan shalat bisa menghantarkan pelakunya untuk meraih ridho Allah SWT.

Sebagian ulama salaf berkata, “Shalat menghantarkan pelakunya kepada pertengahan jalan, puasa menghantarkannya sampai ke pintu raja, sementara shadaqah meraih tangannya untuk dimasukkannya menemui sang raja.”

Ibadah-ibadah di bulan ramadhan seperti di atas, seharusnya menjadikan seseorang menjadi lebih dekat dengan Allah ﷻ. Namun sekarang, ibadah ramadhan telah dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan bersifat duniawi, bahkan politis.

‘Politisi Ramadhan’

Politisasi ramdhan. Inilah yang kerap terjadi pada ibadah-badah di bulan ramadhan. Tentu lengkap dengan segala intrik agar publik menaruh simpati terhadap tokoh, pejabat pemerintah, organisasi, maupun partai politik.

Para politisi yang memiliki kelebihan harta dan memiliki kemampuan berceramah kerapkali menjadikan buka bersama, dengan mengundang anak yatim dan warga masyarakat sebagai sarana kampanye politik. Misalnya, menitip wajah politisi yang ia hasung di backdrop buka bersama.

Dalam ceramah sebelum ifthar, pesan-pesan politik diselipkan sedemikian halus. Sehingga tidak semua jamaah menyadari. Kesempatan itu dimanfaatkan untuk menyusupkan aura kebaikan, seperti  pemberian uang atau makanan. Sehingga ia menjelma bak malaikat penyelamat.

Umat Islam ingat Pilpres 2009 ketika itu, adalah Presiden SBY dan Wapres JK, saat menjadi capres dan cawapres, berbuka puasa di kediaman Ketua MPR-RI Hidayat Nur Wahid, banyak kalangan menilai, acara itu kental dengan nuansa politis. Ini mungkin bisa dikatakan, ‘politisasi ramadhan’.

Buka bersama, sahur bersama, pengajian, pembagian jatah buka di perempatan-perempatan jalan, dan seabrek ibadah ramadhan lainnya telah menjadi ajang mencari dukungan politik. Semuanya in the name of politic. Bisa jadi suatu saat, nama Allah ﷻ pun akan dibawa-bawa demi dunianya yang semu itu. –nau’dzu billah min dzalik-

Memang begitulah faktanya. Pada bulan Ramadhan ini, parpol seakan berlomba lomba mengadakan paket acara berbuka puasa bersama serta berlomba pula memasang spanduk di jalan menyampaikan ucapan marhaban ya Ramadhan.

Biasalah, saat Pemilu Pilpres sudah semakin dekat, kader dan pimpinan parpol selalu berupaya tampil dengan penuh keakraban dan mengobral senyum, kapan dan di mana saja.

Celakanya, pemanfaatan ramadhan sebagai kampanye politik bukan hanya orang Islam, namun orang kafir seperti Obama. Pada awal ramadhan 2011, Obama yang berlumuran darah umat Islam Afghanistan dan Iran, menyampaikan ucapan selamat kepada umat Islam. Bahkan, saat bayi-bayi Afghanistan dan Irak dibawah serangan militer Amerika, Obama menarik simpati umat Islam dengan mengadakan buka bersama di Amerika.

Menjelang idul fitri, kita juga akan disuguhkan dengan berita-berita tentang banyaknya sumbangan, santunan dari partai-partai atau tokoh-tokoh kepada anak yatim, fakir miskin atau korban bencana. Usaha ini pun dilakukan untuk menunjukkan, bahwa individu atau sebuah partai dapat disebut peduli rakyat atau tidak.

Shadaqoh ramadhan adalah diantara ibadah yang paling utama. Rasulullah ﷺ bersabda, “Shadaqah yang paling utama adalah shadaqah pada bulan Ramadhan.” (HR. Al-Tirmidzi dari Anas)

Sayangnya, ibadah yang utama ini disalah gunakan oleh sebagian orang. Lebih disayangkan lagi, kalangan awam muslimin pun tidak sadar kalau kekhusyukan ibadah mereka kadang dipolitisasi oleh orang-orang serakah terhadap dunia dan jabatan.

Semoga dengan puasa Ramadhan tahun ini, orang-orang kaya lebih peduli kepada saudara-saudara musliminnya yang membutuhkan bantuan, jangan sampai mereka menjadi mangsa para politisi dan pencari dunia yang memiliki hasyrat najis.

Semoga ramadhan ini, kwalitas iman umat Islam meningkat, dan kesadaran terhadap tipu daya orang-orang jahat pun bertambah. Tidak sekedar bobot badannya saja yang meningkat. Namun bobot iman dan kesadaran pun meningkat drastis.

Penulis : Mus’ab, Akram

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 104 Rubrik Opini

Editor : Anwar