Waspadai ‘Si Kutu Loncat’ Dalam Iqamatuddin

Ilustrasi si kutu loncat

 An-Najah.net – Akhir-akhir ini begitu marak kader partai politik berpindah haluan. Dalam kamus para politisi hal ini disebut “Fenomena Kutu Loncat”. Seorang kader melompat dari partai biru menuju partai kuning, atau dari partai kuning berubah jadi merah. Fenomena gonta-ganti partai tersebut tentu didasari motif dan kepentingan tertentu. Apalagi jika partai tujuan nampak lebih ‘basah’. Padahal, partai tujuan tidak sebasah yang dibayangkan.

Kadang membuat orang terheran-heran, kok bisa orang sekaliber seperti dia bisa berubah haluan. Tentu adanya fenomena ini ada sebab-sebabnya. Karena ada asap mesti ada sumber apinya.

Fenomena mirip kutu loncat tersebut ternyata terjadi di kalangan aktivis Islam. Ketika si ikhwan dari jamaah A yang tidak puas beralih haluan ikut jamaah B. Fenomena ini bukan kasus langka, karena para aktivis Islam di masa kini umumnya terikat ‘kontrak’ dengan jamaah atau organisasi tertentu. Selain itu, realita di lapangan menghajatkan adanya kebersamaan. Bahwa upaya iqomatuddin takkan bisa maksimal tanpa wadah berupa jamaah.

Sebutan “Si kutu loncat” merupakan satu hal yang tidak enak didengar dalam sebuah jamaah. Dimana seorang kader sudah dibina sekian lama, dengan biaya  dan potensi yang tidak terkira, dan waktu yang tidak bisa dinilai dengan harta. Terkorbankansia-sia. Harus rela dipetik begitu saja oleh jamaah lainnya.

Bahkan, kadang-kadang juga bisa menimbulkan fitnah. Karena ia membuka aib jamaah kepada yang lainnya. Padahal aib itu adalah sebuah aurat yang harus ditutupi. Karena menyangkut dapur sebuah gerakan, baik tujuan, dan rahasia personal.

Fanatik kepada jamaah memang tidak boleh. Sedangkan fanatik kepada Islam merupakan sebuah tuntutan. Namun perlu difahami Jamaah itu perintah sebagaiwasilah(sarana) untuk memudahkan seseorang mengamalkan Islam, dan meraih tujuan politis Islam yang tidak mungkin dilakukan seorang diri.

Menegakkan Islam dengan berjamaah adalah sebuah keniscayaan. Kalau mau mengamati ternyata semua perlu jamaah. Bahkan perbuatan kotor pun butuh jamaah. Misalnya peredaran narkoba, human trafficking, korupsi, judi bola, pasti dilakukan berjamaah. Dalam arti teroraganisir dengan rapi. Apalagi cita-cita ingin menegakkan syari’atIslam, tentu lebih memerlukan jamaah.

Ali bin Abu Thalib mengatakan “al haqqu bi la nidzamyaghlibuhulbathil bi nidzam”. Kebenaran yang tidak ternidzom akan dikalahkan kebatilan yang ternidzom. Namun, jamaah itu bukan sembarang jamaah. Tetapi jamaah yang punya tujuan yang jelas, aqidah yang shahihah, cara menegakkan Islamyang sebagaimana diajarkan Rasulullah Saw.

Sebab, ketika cita-cita ingin menegakkan Islam tidak dibangun di atas itu semua. Ibarat seperti membangun istana diatas pasir. Bangunan itu akan mudah robah ketika mendapatkan hantaman dari gelombang baik air maupun angin. Apalagi, sudah menjadi sunatullah musuh-musuh Allah, tidak pernah rela Islamkembali jaya.

Say, No Kutu Loncat

Fenomena kutu loncat ini akan merugikan diri sendiri dan juga jamaah. Ia harus mencari komunitas yang baru. Sementara itu jamaah yang ditinggalkannya akan melakukan pekerjaan baru lagi mencetak kader yang seharusnya ada.

Namun, satu hal yang perlu difahami dalam hidup berjamaah agar tidak ada kutu loncat., yaitu Jamaah itu memerlukan nidzom. Nidzom dalam bahasa adalah aturan main, rule of game.

Nidzom adalah pengaturan tentang kapan harus bergerak  dan kapan harus berhenti, harus berbuat apa dan bagaimana harus berbuat. Nidzom merupakan aplikasi praktis dari berjamaah.

Jamaah dan nidzom adalah dua sisi mata  uang yang tidak bisa dipisahkan. Maka bagaimana mungkin seseorang dikatakan berjamaah tetapi tidak mau mengikuti aturan mainnya. Sesuatu yang tidak masuk akal.

Nidzom dibuat agar ada keteraturan dalam melakukan pekerjaan, berkesinambungan dalam mengelola sumber daya  kemampuan,  menyederhanakan perbedaan, menyatukan kekuatan, fokus pada  cita-cita dan tujuan.

Nidzom adalah sistem, sebuah mekanisme proses untuk melaksanakan perintah Allah AzzawaJalla.  Allah berfirman dalam Al Qur’an surat Ash-Shaf ayat 4, “Sesungguhnya Allah Mencintai orang-orang yang berperang di Jalan-Nya dalam barisan, seolah-olah mereka adalah suatu bangunan yang tersusun kokoh.”

Dalam ayat lain Allah menegaskan;

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (Qs. Al-Anfal: 73)

Ya, jika orang-orang beriman tidak saling tolong menolong, bahu membahu dalam menegakkan Islam, sebagaimana orang-orang kafir yang bahu membahu dalam menghancurkan Islam dan menyebarkan kekufurannya, maka akan terjadi kerusakan di bumi ini. Fakta hari ini, orang-orang kafir, bersekutu, berorganisasi, dan berjamaah dalam menghancurkan Islam. Tentunya, umat harus demikian juga untuk menolak gelombang kekufuran.

Disiplin  menjadi kata kunci indahnya keteraturan sebuah jamaah. Dan kebalikannya, tidak disiplin adalah biang kesemrawutan sebuah jamaah. Indisipliner menjadi pemicu awal bagi kehancuran sebuah jamaah, karena jika ada satu bagian saja yang menyelisihi sebuah sistem yang dibangun maka kerusakan dan kehancuran tinggal menunggu waktu saja.

Dalam hidup berjamaah juga harus ditumbuhkan kesadaran ruhiyahnya. Agar terpaut hati-hati antar anggota jamaah itu. Rasulullah bersabda; Ruh-ruh itu ibarat pasukan yang berbaris rapi. Jika mereka saling mengenal maka akan saling menguatkan. Namun, apabila mereka tidak saling mengenal mereka akan bercerai berai.

Maka, ketika budaya amar makruf nahi mungkar sudah dibiasakan dalam sebuah jamaah. Tali ukhuwah Islammiyah akan semakin erat diantara mereka. Sehingga kasus “Si Kutu Loncat” akan bisa diminimalisir. Akhirnya tujuan dari sebuah jamaah akan terealisasi dengan izin Allah Swt.

Lain masalahnya jika kutu loncat dalam jamaah tersebut disebabkan karena penyimpangan jamaah tersebut dari Islam. Ini bisa dibenarkan, bahkan wajib. Dan tentunya, kasus ini harus bisa dipisahkan dari kasus seseorang yang gonta-ganti jamaah karena melihat jamaah lain lebih ‘hijau’ dari jamaahnya.

Sumber : Majalah An-Najah Edisi 118 Rubrik Sekitar kita

Editor ; Abu Mazaya