Wirathu, Wajah Terorisme Buddha pembenci muslim Rohingya

Ashin Wirathu, Wajah Teroris Budha
Ashin Wirathu, Wajah Teroris Budha

Surakarta (An-najah.net) – Pendeta Burma tidak ingin islam berkembang. Ashin Wirathu, merupakan seorang pendeta yang amat benci terhadap muslim Rohingnya. Bahkan kebenciannya tampak pada khotbah-khotbahnya. Itu kebencian yang kelihatan dari ceramah-ceramahnya, tentu apa yang ada dihatinya lebih besar kebenciannya.
Pada tahun 2003, ia ditahan karena khotbahnya yang berisi kebencian kepada umat islam. Sehingga ia dijebloskan kedalam penjara selama 25 tahun. Namun, tahun 2010 ia dibebaskan bersamaan dengan tahanan politik.
Pendeta kelahiran 1968 ini, dikenal sebagai provokator terjadinya konflik di Burma. Dalam majalah time foto wirathu ini dijadikan pada kover depan. Akibat dari kejadian majalah time dilarang beredar di Myanmar.
Dampak dari konflik Ribuan warga muslim Rohingya dalam beberapa pekan terakhir terpaksa diselamatkan nelayan Aceh ketika mereka terapung-apung di lautan dalam kondisi mengenaskan. Badan mereka kurus-kurus dan kelaparan.

Para imigran asal Myanmar itu terpaksa meninggalkan rumah mereka karena konflik sektarian di negerinya. Mayoritas umat Buddha di Myanmar membenci warga muslim Rohingya. Konflik yang sudah berlangsung sejak 2012 itu sudah menewaskan ribuan muslim Rohingya, termasuk kaum wanita dan anak-anak.

Kebencian warga Buddha itu bersumber dari gerakan antimuslim dikenal dengan nama 969.

Selebaran, stiker, DVD, dan Internet digunakan untuk menyebarkan kebencian terhadap minoritas muslim di negara itu, seperti dilansir surat kabar The Sydney Morning Herald, Senin (15/4/2013). Stiker 969 makin banyak ditempel di jendela-jendela toko, taksi, dan rumah-rumah di dua kota besar, yakni Yangon dan Mandalay.

Gerakan 969 ini dipimpin oleh biksu-biksu radikal. Salah satunya adalah Wiseitta Biwuntha, sering disapa Yang Mulia Ashin Wirathu. Biksu yang divonis seperempat abad penjara ini karena menyulut kerusuhan antimuslim dibebaskan tahun lalu bersama ratusan tahanan politik setelah mendapat amnesti.

Wiratu mengklaim dirinya sebagai Bin Ladin asal Burma ini menyebut muslim sebagai musuh. Dia juga menuding muslim Myanmar sumber kejahatan. “Tugas saya adalahmenyebarkan misi ini,” ujarnya. “Saya hanya bekerja bagi orang-orang percaya terhadap ajaran Buddha.”

“Gerakan anti muslim terus tumbuh dan pemerintah tidak menghentikannya,” kata Myo Win, seorang guru muslim. Dia juga menyebut 969 sama dengan kelompok ekstrem Ku Klux Klan di Amerika Serikat.

Logo 969 kini paling dikenal di Myanmar. Logo itu berbentuk lingkaran cakra dengan empat singa Asia di bagian tengahnya menggambarkan keturunan Budha Ashoka. Sticker berlogo 969 ini kerap dibagikan gratis saat ceramah-ceramah. Sticker ini juga ditempel di berbagai tempat dan benda-benda seperti pintu toko, pintu rumah, taksi, kios cinderamata.

Umat Buddha dan segala yang mendukung 969 beralasan Wirathu hanya bermaksud melindungi dan menyebarkan agama negara, Budhha. Wirathu mulai menyebarkan gerakan 969 pada 2001 ketika Taliban menghancurkan patung Budhha di Bamiyan, Afganistan. Dua tahun kemudian Wirathu ditangkap dan divonis penjara 25 tahun karena menyebarkan pamflet anti muslim yang memicu kerusuhan hingga menewaskan sepuluh muslim.

Pada 2011 dia dibebaskan ketika ada amnesti bagi para tahanan politik. Sejak tahun lalu gerakan 969 makin meluas di Myanmar dengan tujuan memboikot muslim di seluruh negeri.

Wirathu mengatakan dia ingin gerakan biksu radikal 969 dipimpinnya bisa melindungi warga Buddha Myanmar dari minoritas muslim.

Atas sepak terjangnya menghabisi warga muslim Rohingya, majalah TIME pada 2013 lalu menampilkan sosok Wirathu sebagai sampul depan. Ketika itu TIME menulis judul ‘Inilah wajah terorisme Buddha’ lantaran dapat merusak kepercayaan yang dibangun antar agama di Myanmar dan merusak gambaran umat Buddha, yang menjadi agama mayoritas di Myanmar selama ribuan tahun.

Pemerintah Myanmar kemudian melarang peredaran majalah TIME edisi itu. Aneh memang, kebanyakan yang disebut sebagai teroris itu adalah umat islam. Padahal banyak orang-orang yang benci kepada islam. sampai-sampai mereka melakukan pembantaian terhadap umat islam tidak disebut sebagai teroris.
Namun, ketika umat islam melakukan pembelaan terhadap saudaranya yang menderita. Ataupun mereka mempertahankan tanah kelahirannya, dan ingin mempertahankan diri dari pengusiran malah dituduh sebagai teroris. Maka sudah selayaknya sesama umat islam harus senantiasa bantu membantu antara satu dengan yang lainnya. Sebab itu merupakan kewajiban sesama muslim. Muslim satu dengan yang lainnya itu ibarat satu tubuh. (Anwar/annajah/Wikipedia/merdeka)