Browse By

ZAKAT FITRI DALAM KONSEP SALAF

An-Najah.net _ Sudah menjadi ijma’ dan kesepakatan para fuqaha’ mengenai wajibnya zakat fitri atas kaum muslimin.

عَنِابْنِعُمَرَ – رَضِيَاللهُعَنْهُمَا – قَالَ: فَرَضَرَسُولُاللَّهِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَزَكَاةَالْفِطْرِصَاعًامِنْتَمْرٍ،أَوْصَاعًامِنْشَعِيرٍ، عَلَىالْعَبْدِوَالْحُرِّ،وَالذَّكَرِوَالأُنْثَى،وَالصَّغِيرِوَالْكَبِيرِمِنَالْمُسْلِمِينَ،وَأَمَرَبِهَاأَنْتُؤَدَّىقَبْلَخُرُوجِالنَّاسِإِلَىالصَّلاَةِ

Ibnu Umar RA berkata, “Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebanyak satu sha’ kurma, atau satu sha’ gandum. Kepada hamba sahaya dan orang merdeka, laki-laki dan wanita, anak kecil dan orang dewasa; dari umat Islam. Dan beliau perintahkan agar ditunaikan sebelum orang-orang pergi menuju dhalatied.” (Hadits Shahih, Bukhari dan Muslim)

Disebut zakat fitrah karena zakat tersebut wajib di penghujung bulan Ramadhan memasuki malam hari raya idulfithri. Jadi kewajibannya bermula sejak matahari terbenam di akhir bulan Ramadhan; demikian menurut Imam Ahmad, Sufyanats-Tsauri, Ishaq bin Rahaweh, Imam Syafi’i dalam qualjadidnya dan menjadi salah sati riwayat dari Imam Malik. Sebagian ulama’ lainnya mengatakan bahwa waktu wajibnya adalah dimulai dari ba’da subuh; karena berdasarkan hadits diatas bahwasanya Rasulullah SAW tidak menyuruh memberikannya kecuali sebelum berangkat menuju shalat idulfitrhi. Demikian menurut Abu Hanifah, al-Laits, Imam Syafi’i dalam qaulqadimnya dan riwayat kedua dari Imam Malik.(NailulAuthar, 4/227)

 

Tujuan Zakat Fitrah

Zakat fitrah memiliki dua maksud; pembersihanorang yang shaumdari ucapan dan perbuatan yang sia-sia dan kotor yang pernah dilakukannya saat shaum Ramadhan serta mencukupkan kebutuhan makan fakir miskinmustahiq di hari raya keesokan harinya.

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَالْفِطْرِطُهْرَةًلِلصَّائِمِمِنَاللَّغْوِوَالرَّفَثِ، وَطُعْمَةًلِلْمَسَاكِيْنِ ، مَنْأَدَّاهَاقَبْلَالصَّلاَةِفَهِيَزَكاَةٌمَقْبُوْلَةٌ، وَمَنْأَدَّاهَابَعْدَالصَّلاَةِفَهِيَصَدَقَةٌمِنَالصَّدَقَاتَ

“Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersihan orang yang shaum dari ucapan yang sia-sia dan kotor, dan makan kepada kaum yang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat, maka dikatakan sebagai zakat yang diterima. Dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat, maka dia sekedar shadaqah seperti shadaqah-shadaqah lainnya.” (Shahih al-Jâmi’ ash-Shaghîr, 5883)

Hadits ini mengecualikan zakat fitrah dibandingkan zakat dan shadaqah lainnya. Dia tidak sama dengan zakat maalatapunshadaqah-shadaqah lainnya. Yaitu mustahiqnyakhusus kepada kaum miskin dan fakir, dan tidak merata kepada golongan lainnya yang Allah sebutkan dalam ayat 60 Surah at-Taubah. ( Lihat : NailulAuthar, 4/233)

Imam IbnulQayyim menjelaskan, “Dan diantara petunjuk Nabi SAW adalah mengkhususkan golongan miskin terhadap shadaqah ini. Dan beliau tidak membagikannya kepada kelompok penerima zakat lainnya yang delapan satu persatu, dan tidak juga memerintahkannya. Dan tidak juga dilakukan oleh seorang sahabatnya ataupun generasi sesudahnya. Bahkan salah satu pendapat kami mengatakan, “Sesungguhnya zakat fitrah tidak boleh dikeluarkan kecuali kepada orang-orang miskin saja. Dan pendapat ini adalah lebih rajih daripada pendapat yang mengatakan layak untuk dibagikan kepada delapan kelompok.” (ZaadulMa’ad, 2/21)

 

Bahan Pokok Yang Dikeluarkan

Adapun yang dikeluarkannya adalah bahan pokok makanan suatu negeri. Bisa berupa kurma, gandum, tepung, jagung ataupun beras. Yang penting adalah semua jenis bahan pokok makanan suatu daerah. (Tuhfatul Ikhwan; Syaikh Ibnu Baaz, hal. 155)

Paling utama adalah makanan yang banyak memberikan manfaat kepada fakir miskin. Karena mana yang paling mengeyangkan, itulah yang paling dibutuhkan. Sehingga mereka tidak mengemis pada hari raya iedulfithri. (Taisir al-‘Âlâm, 1/396).

Abu Said al-Khudri berkata, “Kami mengeluarkan zakat fitrah (pada zaman Rasulullah SAW) berupa satu sha’ makanan, atau satu sha’ gandum, atau satu sha’ kurma, atau satu sha’ keju, atau satu sha’ kismis.” (Hadits Shahih, bukhari dan Muslim)

Menurut DR. Wahbahaz-Zuhaili, ukuran satu sha’ sepadan dengan empat mud, nilainya 2.75 liter atau 2175 gram. Demikian dalam madzhabSyafi’i, fuqaha’ Hijaz dan dua orang sahabat Abu Hanifah. (al-Fiqh al-Islamy, 1/75) Ada juga yang menilainya dengan 2.4 kg, seperti yang difatwakan oleh Syaikh al-Utsaimin.

Karena tujuan zakat fitrah adalah mengenyangkan kaum fakir miskin. Maka barang yang layak dikeluarkannya adalah bahan pokok makanan, dan menurut madzhab terkuat adalah tidak boleh diganti dengan uang. Demikian pendapat jumhur dari madzhab Maliki, Syafi’i, dan Hambali.SedangkanmadzhabAbu Hanifah dan Sufyanats-Tsauri membolehkan zakat fitrah dengan uang. Akan ini pendapat ini lemah karena hanya bersandar kepada ijtihad mutlak. Dan sebuah ijtihad apabila berjumpa dengan nas-nash yang shahih, maka ijtihadnyatidak diakui.

Abu Daud berkata, “Imam Ahmad pernah ditanya dan aku mendengarnya, “Apakah dibayarkan dengan dirham pada zakat fitrah?” Beliau menjawab, “Aku khawatir bila hal tersebut tidak dibolehkan, karena berlainan dengan Sunnah Rasulullah SAW.” (al-Mughni, 4/295; FatawaSyaikhFauzan, Kitab ad-Da’wah, 2/12)

Akan tetapi bila disana ditemukan sebuah hajat yang sangat mendesak, seperti seorang musafir di tengah safarnya dan sangat mendesak membayar zakat fitrah dan hanya memiliki uang, lalu dijumpainya fakir miskin dan tidak ada bahan makanan yang patut diberikannya.Atau pada kondisi besarnya muatan makanan yang dikirimkannya ke suatu daerah, atau mengirimkannyadaerah tertentu tingkat kemiskinannya lebih tinggi dan tidak dapat dikirimkan via barang makanan, melainkanhanya dengan uang.

Maka dalam masalah ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Ikhtiyârât yang disusun oleh Imam al-Ba’liy (153), terkesan membolehkannya untuk sebuah maslahat dan hajat mendesak, “Dan boleh mengeluarkannya dengan uang dalam masalah zakat, karena adanya kecondongan kepada hajat dan maslahat.”  Akan tetapi apakah fatwa beliau ini sifatnya umum untuk zakat maal dan zakat fitrah, ataukah hanya pada zakat maal saja.

Karena pada fatwa lainnya (25/68) ketika beliau ditanya tentang zakat fitrah, apakah dengan kurma, atau kismis, atau gandum, atau tepung? Dan apakah diberikan kepada kerabat yang tidak wajib dinafkahi? Ataukah boleh diberikan dengan uang? Beliau hanya menjawab pertanyaan pertama dan kedua saja, dan tidak ada menjawab pertanyaan yang ketiga. Wallâhua’lam.

Jikapun seorang muzakki (pemberi zakat) memberikan kepada lembaga zakat berupa uang, maka wajib bagi lembaga tersebut membelikan bahan makananuntuk diserahkannyakepada para fakir miskin.

Dalam fatwa yang dikeluarkan oleh Komite Fatwa dan Kajian Ilmiyah KSA disebutkan, “Dan tidak boleh membayar zakat fitrah dengan uang, dikarenakan dalil-dalil syar’i menunjukkan kewajiban mengeluarkannnya dengan makanan. Dan tidak boleh berpaling dari dalil-dalil syar’i hanya karena ucapan seorang manusia. Dan apabila muzakki menyerahkan uang kepada satu yayasan untuk dibelikan makanan yang nantinya diserahkan kepada kaum fakir, maka yayasan tadi wajib menyerahkannya sebelum dilaksanakannya shalat ied, dan tidak boleh mengeluarkannya dengan uang.” (Fatawa al-Lajnah ad-Dâ’imah, 9/377).

 

Waktu Dibayarkannya Zakat

Dalam Shahih al-Bukhari (1440) disebutkan, “Ibnu Umar radhiyallâhu ‘anhuma memberikan zakat fitrah kepada orang-orang yang menerimanya. Dan mereka (para sahabat) memberikannya sehari atau dua hari menjelang idulfithri.” Maksud ‘orang-orang yang menerimanya’, adalah amil zakat yang bertugas mengumpulkan dan membagikan zakat.

Kemudian dalam memberikan zakat fitrah bisa langsung ke tangan fakir miskin tanpa perantara panitia, dan bisa juga diserahkan kepada panitia penerima zakat; baik zakat fitrah ataupun zakat maal.

Pertama, panitia yang memiliki fungsi sebagai amil zakat yang ditunjuk dan diangkat oleh negara atau amir, sesungguhnya mereka mendapattawkil dan amanah dari pihak muzakki dan mustahiq (fakir miskin). Dan bagi muzakki sudah boleh menyerahkan zakatnya kepada amil zakat ini terhitung sehari atau dua hari menjelang idulfithri. Seperti yang dilakukan oleh para sahabat pada riwayat Ibnu Umar di atas.Dan menjadi pendapat kuat dalam mazhab Hambali bahwa awal penyerahan zakat fitrah adalah sehari atau dua hari menjelang idulfitrhi. Bila muzakki terlambat menyerahkan zakatnya sampai selesai shalat idulfithri, maka muzakki tadi berdosa.

Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin berkata, “Boleh menyerahkan zakat kepada yayasan-yayasan sosial yang ditunjuk oleh negara dan mendapatkan ijin dari negara. Yang mewakili negara, dan negara sebagai wakil dari rakyat yang fakir. Dengan demikian apabila zakat fitrah telah sampai kepada mereka tepat waktu, maka dia telah menunaikan kewajibannya. Walaupun yayasan tadi belum menyerahkannya kepada kaum fakir kecuali setelah hari raya; dikarenakan adanya maslahat menurut mereka atas penundaan penyerahan tersebut.” (asy-Syarhu al-Mumti’i, 6/175)

Kedua, apabila panitia tersebut fungsinya adalah sebagai wakil dari pihak muzakkisaja tanpa pihak mustahiqseperti yang banyak tersebar di tempat kita pada hari-hari ini. Serta tidak mendapatkan amanah ataupun ijin dari negara atau amir untuk mengumpulkan dan membagi-bagikan zakat. Dimanatawkilnya (pengwakilan) ini diwujudkan dengan penyerahan zakat fitrah muzakki kepada satu yayasan/lembaga untuk dibagikan kepada kaum fakir. Atau dengan menyerahkan nominal uang kepada mereka agar dibelikan bahan makanan sebagai zakat fitrah lalu dibagikan kepada kaum fakir miskin. Maka muzakkisudah boleh menyerahkan zakat fitrahnya kapan saja kepada yayasan tersebutterhitung dari awal Ramadhan sebagaimana dalam madzhabSyafi’i, dan yayasan/lembaga yang diamanahkan tidak boleh terlambat menyerahkan zakat fitrahnya kepada kaum fakir miskin sampai dijalankannya shalat ied. Dan panitia semacam ini bertanggung jawab atas segala keterlambatan zakat fitrah yang selayaknya sudah diterima oleh fakir miskin sebelum terlaksananya shalat ied. (Nawâzilaz-Zakât, hal. 512; DR. Abdullah Manshur al-Ghafili)

Komite Fatwa dan Kajian Ilmiyah KSA memfatwakan, “Dan apabila muzakki menyerahkan uang kepada satu yayasan untuk dibelikan makanan yang nantinya diserahkan kepada kaum fakir, maka yayasan tadi wajib menyerahkannya sebelum dilaksanakannya shalat ied, dan tidak boleh mengeluarkannya dengan uang.” (Fatawa al-Lajnah ad-Dâ’imah, 9/377).*

Oleh : Abu AsiyahZarkasyi

Diambil dari majalah Islam An-Najah edisi 140

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *