Browse By

Zuhud, Modal Perjuangan & Ketabahan

Image result for bow and arrow quotes

Dikisahkan, ketika Bani Ubaid menguasai Mesir memaksa para ulama mengikuti akidah Syi’ah Bathiniyah yang mereka anut.  Siapayang  menolak, akan berakhir pada siksaan dan eksekusi mati.

Sebagian ulama Sunni memilih menyelamatkan diri dari Mesir. Sebagian bersembunyi dari telik sandi Bani Ubaid. Namun, ada pula yang bertahan dan menentang. Salah satunya yaitu Abu Bakar An-Nablusi.

Ulama hadits dari madzhab syafi’i tersebut ditangkap, lalu dihadapkan kepada al-Muiz, pemimpin Bani Ubaid. Terjadilah dialog berikut:

“Ada yang mendengar bahwa kamu pernah  mengatakan, ‘Andaikan aku punya sepuluh anak panah, aku bidikkan sembilan kepada Romawi dan satu kepada Mesir (Bani Ubaid)?’”, tanya al-Muiz.

“Oh tidak. Itu salah,” ucap ulama yang pernah berguru kepada Imam ath-Thabarani, Daruquthni , dan ulama hadits lain.

Al-Muiz senang dan mengira sang imam meralat ucapannya serta mengakui kekuasaannya. Ia pun bertanya, “Lantas apa yang telah kau ucapkan.”

An-Nablusi menjawab, “Yang saya katakan, ‘Jika saya memiliki sepuluh anak panah, satu panah saya bidikkan ke arah Romawi, sedangkan sembilannya saya kepada kalian’.”

“Mengapa?” tanya al-Muiz dengan suara bergetar menahan rasa marah.

“Karena kalian telah mengubah agama Allah, membunuh orang-orang saleh dan memadamkan cahaya Allah. Kalian juga mengklaim apa yang tidak ada pada diri kalian,” jawab An-Nablusi tegas.

Sang penguasa berteriak memerintahkan para algojo untuk menyeret ulama ini dari hadapannya. Sementara ia tersengal-sengal, seakan sesak napas, tidak kuasa berhadapan dengan keberanian sang syaikh.

Sang alim ini kemudian dicambuk, dan dikuliti hidup-hidup. Algojo yang mengulitinya adalah seorang Yahudi. Dia juga yang membunuh ulama hadits ini.

Dikisahkan, saat penyiksaan berlangsung, lisan sang imam senantiasa mengulang-ulang firman Allah SWT:

“Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah).” (QS. Al-Ahzab: 6).

Beliau meyakinkan dirinya, bahwa apapun yang menimpa beliau, termasuk siksaan tersebut, merupakan suratan takdir yang telah ditentukan. Ia harus ridho menerima takdir Allah SWT.

Kisah ini disebutkan Imam Ibnu Katsir dalam karya yang fenomenal ál-Bidayah wan Nihayah: 11/322. Kisah menakjubkan tentang kegigihan membela kebenaran,  keberanian menghadapi penguasa yang kejam dan ketegasan dalam memegang prinsip.

Seistiqomah Syaikh An-Nabulusi

Agar kita mengetahui rahasia keberanian dan ketegaran sang Imam, marilah kita dengar apa kata ulama tentang beliau. Ahli tafsir sekaligus sejarawan Islam, Ibnu Katsir Rahimahullahu menjelaskan secara singkat pandangannya terhadap Syaikh An-Nabulusi, “Dia seorang yang zuhud, ahli ibadah, waro’, yang selalu berkorban di jalan Allah SWT dan selalu mensucikan diri.”

Setidaknya ada tiga sikap utama Syaikh An-Nabulusi dalam penjelasan imam Ibnu Katsir di atas. Ketiganya menjadi modal utama dalam menempuh perjuangan di jalan Allah SWT dengan dakwah dan jihad. Di kesempatan kali ini, kami hanya menyorot sifat zuhud.

Zuhud

Kajian tentang zuhud sebenarnya sangat urgen. Itulah alasan mengapa para ulama menulisnya dalam pembahasan khusus yang terpisah dari kajian akhlak lainnya. Misalnya, Abdullah bin Mubarak menulis kitab, Az-Zuhdu wa ar-Raqa’iq. Al-Mu’afiy al-Mushuliy yang wafat tahun 185 H menulis kitab az-Zuhdu. Demikian juga para imam lainnya. Misalnya; Imam Waki’, Asad bin Musa, Ahmad bin Hambal, Hanad as-Sirri, Abu Dawud, Abu Hatim dan Imam Ibnu Abi Dunya.

Imam Ibnul Qayyim menulis dalam Madarijus Salikin (2/12), “Al-Qur’an penuh dengan ayat-ayat tentang zuhud. Yaitu tentang kehancuran dunia, kefanaannya dan nilai dunia yang sangat hina. Tentang keindahan akhirat, keutamaan dan keabadian negeri akhirat. Jika Allah SWT menghendaki seorang hamba menjadi baik, Dia akan menajamkan mata hatinya. Ia mampu menyingkap hakikat dunia dan akhirat. Ia juga mampu menakar prioritas antara keduanya.”

Menurut Ibnu Taimiyah, “Zuhud adalah meninggalkan segala hal yang tidak bermanfat di akhirat kelak nanti.” Sementara imam Sufyan ats-Tsauri  menjelaskan, “Zuhud adalah menganggap kerdil cita-cita dunia. Ia bukan berpakaian kumal, juga bukan mengkonsumsi makanan-makanan yang kasar (murahan).”

“Intinya,” tulis Ibnul Qayyim, “Seseorang yang zahid (memiliki sifat zuhud) tidak akan bergembira dengan dunia yang dia dapatkan, juga tidak akan bersedih atas dunia yang hilang darinya. Hal ini sebagaimana tersebut dalam firman-Nya dalam surat Al-Hadid: 23.” [Madarij, 2/13].

Orang yang zuhud tidak terlalu berharap terhadap dunia. Dalam pandangan zahid, akhirat adalah kemuliaan sebenarnya, kebahagiaan akhirat adalah kebahagiaan yang sesungguhnya. Mereka pun tidak terlalu peduli atas musibah dunia. Sebab bagi mereka, bahagia dan derita dunia sesuatu yang fana. Hanya sementara.

Hal ini bisa dilihat pada pengikut nabi Musa AS. Yaitu ketika para penyihir Fir’aun menyatakan diri masuk Islam. Tunduk dan pasrah kepada syariat nabi Musa AS.

Ar-Ruwaim pernah bertanya kepada al-Junaid, “Wahai Syaikh apakah zuhud itu?” Beliau menjawab, “Yaiu meletakkan dunia sebagai sesuatu yang remeh (menjijikkan), dan menghapus seluruh pengaruh dunia dari jiwa.” (Madarij, 2/14)

Syarat Zuhud

Selain mampu meyakinkan diri bahwa semua perkara dunia hina dan mampu berpaling dari fitnahnya, untuk mencapai derajat zuhud yang hakiki seorang hamba harus memenuhi syarat-syaratnya.

Menurut kajian dan tadabbur Yahya bin Mu’adz, syarat zuhud ada tiga. Tokoh yang wafat pada 258 H tersebut mengatakan, “Seseorang tidak akan mencapai hakekat zuhud sampai dalam dirinya terdapat tiga hal:

  1. 1. Beramal tanpa terikat tujuan duniawi.
  2. 2. Berucap tanpa berharap apapun (selain pahala dari Allah).

3 Mencari kemulian (untuk akhirat), bukan untuk jabatan dunia.”

Imam Hasan al-Bashri menambahkan syarat zuhud, hendaklah kita percaya dan yakin sepenuhnya kepada balasan Allah SWT. Sehingga tidak pernah terbetik dalam hati untuk berharap kepada selain Allah SWT.

Beliau berkata, “Zuhud di dunia bukan berarti mengharamkan yang halal, atau menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhid itu adala kamu lebih yakin terhadap apa yang di tangan Allah SWT, daripada apa yang ada di tanganmu. Dan kamu sangat berharap mendapatkan pahala musibah –jika ditimpa musibah-, walau kamu tidak tertimpa musibah tersebut.”

Inilah diantara rahasia ketegaran sang imam. Sehingga beliau sangat layak untuk mendapatkan anugerah keteguhan sikap, dan keberanian membela kebenaran dari Allah SWT. Orang yang memiliki sifat zuhud adalah orang-orang yang tidak lagi mengharap apapun dari manusia. Ia hanya menggantungkan harapan kepada Dzat Yang Maha Kaya, dan Dzat Yang Maha Kuasa, Allah SWT. * (Akrom Syahid)

Diambil dari majalah Islam An-Najah edisi 130, rubrik Oase Imani

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *